Rabu, 28 Agustus 2019

Teka Teki Penyebab Gempa Bumi Menurut Sebagian Orang Jawa


Di suatu malam, saya pernah mendengar sebuah kisah dari kakek saya. Dan kisah ini pada akhirnya hampir sama dengan pengetahuan yang kita dapatkan di sekolah. Kisah ini adalah tentang adanya gempa bumi atau dalam bahasa jawa 'lindu'.
Kakek saya mengawali ceritanya dengan bertanya kepada saya, 'Apa penyebab gempa bumi?' . Lalu spontan saya jawab ' sebagian besar gempa bumi disebabkan oleh lempeng bumi '. Lalu kakekku hanya tersenyum dan tertawa ringan.
Lalu dia menjawab , ' ingin tahu penyebab gempa menurut orang jawa kuno?' lalu aku mengangguk saja tanda setuju. Lalu beliau kembali meneruskan penjelasannya. ' gempa bumi itu terjadi karena bergeraknya naga yang ada di dalam tanah yang dalam. Naga itu ada di seluruh jagat raya.
Dan naga itu tidak berpindah tempat, tapi naga itu hanya bergerak saja. Coba bayangkan,  naga hanya bergerak, tapi goncangannya sangat dirasakan di muka bumi, apalagi kalau naga itu berpindah tempat
Bisa hancur dunia ini. Dan mungkin hal ini akan terjadi besok saat hari kiamat, hehe' jelas kakek saya, dengan tawa kecil di akhirnya.
Hm, jujur saja aku saat itu belum paham apa yang kakek katakan. Tiba tiba kedua orangtuaku memanggilku dan menyuruhku untuk izin kepada kakek untuk pulang,  mengingat waktu sudah malam.
Saat tiba di kamar tidur, langsung kurebahkan badanku di kasur yang cukup untuk mengistirahatkan badanku. Sebelum tidur, aku tiba tiba teringat kata kata kakek tadi tentang penyebab gempa bumi. Ya tentang naga tadi.
Sejenak kupikir pikir, ternyata lumayan mirip juga dengan apa yang kupelajari di sekolah. Ternyata naga yang disimbolkan dengan warna merah itu sejalan dengan api atau magma yang ada di dalam bumi. Dan benar saja itu bisa saja menimbulkan gempa bumi. Dan benar pula kalau naga atau magma itu ada di seluruh jagat bumi.
Ya mungkin benar juga kalau magma itu hanya bergerak. Coba saja kalau magmanya bepindah tempat, maka bisa jadi hancur seluruh muka bumi ini. Ya ini sesuai dengan keadaan saat di hari kiamat.

Ya.. Ini semua adalah penafsiran saya. Mohon maaf jika terdapat kekeliruan, dan berkenan untuk memberi komentar di kolom komentar. Terimakasih

Selasa, 27 Agustus 2019

Hamba yang menghambakan dirinya kepadaNya


Mungkin kalian sudah sering mendengar perihal bahwa kita sebenarnya adalah hamba. Namun dalam pengaplikasiannya kita jarang sekali melaksanakan penghambaan diri kita kepadaNya , entah itu disengaja ataupun tidak. Tidak percaya? Ingin buktinya? Yap. Disini saya akan sedikit berbagi cerita yang jujur saja cerita ini sangat menampar hati dan pikiran saya.

 Ya! Pelajaran hidup seusai solat jumat
Kulihat seorang penjual es serut yang masih semangat dan dengan penuh optimis menawarkan dagangannya. Beliau mengayuh sepedanya dengan hati hati agar tidak jatuh,  mengingat usianya tak lagi muda, sehingga tenaga dan keseimbangannya berbeda dengan dulu saat beliau muda. Sekali kali, dia menawarkan dagangannya dengan memencet terompet sederhana sebagai tanda bagi orang orang bahwa telah datang penjual es serut.

Ya kembali ke persoalan awal. Padahal, jika dilihat dari sudut pandangku, sekarang sudah tidak jamannya es seperti itu, karena es seperti itu sudah jarang peminatnya. Sekarang adalah jamannnya es krim , es es yang sering jadi iklan di tv maupun sosial media, yang katanya rasanya lebih nikmat dan lebih higienis.

Tapi, kulihat bapak2 dengan pipi yang sudah dempot masih tetap semangat untuk menjajakan dagangannya. Beliau seakan akan tak menggubris pikiran orang orang sekitarnya. Karena penasaran, akhirnya saya berpura pura membeli es serut tersebut. Sembari menunggu pesanan es serutku, kuberanikan diri untuk bertanya tanya kepada bapak bapak penjual es tersebut. Awalnya hanya basa basi, namun akhirnya aku berani bertanya, 'Maaf Pak.  Kalau boleh bertanya tapi maaf mungkin pertanyaan saya agak menyinggung perasaan Bapak. Kalau menurut pemikiran saya, es serut itu sudah tidak jamannya untuk saat ini. Tapi mengapa Bapak masih saja berjualan es serut ini? ' . Sambil memberi pesanan es serut kepada saya, beliau menjawab, ' Iya mas, mungkin menurut Anda benar. Tapi saya juga punya keyakinan mas. Bahwa Tuhan sudah menyiapkan rezeki untuk setiap hambanya, dan Pembagian ini tidak akan mungkin salah alamat. Atas dasar itulah saya tetap berjualan es serut ini. Selain itu, semua ini juga saya lakukan sebagai salah satu bentuk pengamalan ilmu yang pernah saya dapat waktu mengaji di "langgar" saat kecil dulu. Dulu, salah satu guru saya pernah berkata ,' Lek, tigas kita semua adalah menghamba kepada yang patut untuk disembah, yaitu Tuhan kita. Jadi, saat kalian melakukan suatu pekerjaan atau usaha, usahakan niat kalian hanya sebagai salah satu bentuk penghambaan kita kepada Tuhan. Sudah cukup itu. Masalah hasil nya nanti, itu urusan Tuhan. Toh, tugas kita kan hanya berusaha, bukan untuk menentukan hasil dari apa yang kita usahakan.'
Seketika itu, aku mengucapkan terimakasih dan membayar dengan uang sesuai pesananku. Saat melangkah menjauhi bapak bapak tadi, aku mencoba untuk mengulangi apa yang beliau ucapkan. Lalu akhirnya kutemukan sebuah makna yg sangat dalam.

Ya inilah pelajaran untukku,
Tugas kita hanya lah mengabdi.
Bukan mengabdi kepada omongan orang lain, tapi mengabdi kepada Tuhan.
Ya seperti bapak2 tadi,  dia tetap mengabdi dengan caranya sendiri, yaitu berdagang.
Intinya kita mengabdi. Karena kita hanyalah diperintah untuk berusaha, bukan menentukan hasil dari usaha kita.
Intinya, berusahalah dan bekerjalah sesuai passion kalian . Niatkan semua itu sbg salah satu bentuk penghambaan diri kita kepadaNya.