Selasa, 27 Agustus 2019

Hamba yang menghambakan dirinya kepadaNya


Mungkin kalian sudah sering mendengar perihal bahwa kita sebenarnya adalah hamba. Namun dalam pengaplikasiannya kita jarang sekali melaksanakan penghambaan diri kita kepadaNya , entah itu disengaja ataupun tidak. Tidak percaya? Ingin buktinya? Yap. Disini saya akan sedikit berbagi cerita yang jujur saja cerita ini sangat menampar hati dan pikiran saya.

 Ya! Pelajaran hidup seusai solat jumat
Kulihat seorang penjual es serut yang masih semangat dan dengan penuh optimis menawarkan dagangannya. Beliau mengayuh sepedanya dengan hati hati agar tidak jatuh,  mengingat usianya tak lagi muda, sehingga tenaga dan keseimbangannya berbeda dengan dulu saat beliau muda. Sekali kali, dia menawarkan dagangannya dengan memencet terompet sederhana sebagai tanda bagi orang orang bahwa telah datang penjual es serut.

Ya kembali ke persoalan awal. Padahal, jika dilihat dari sudut pandangku, sekarang sudah tidak jamannya es seperti itu, karena es seperti itu sudah jarang peminatnya. Sekarang adalah jamannnya es krim , es es yang sering jadi iklan di tv maupun sosial media, yang katanya rasanya lebih nikmat dan lebih higienis.

Tapi, kulihat bapak2 dengan pipi yang sudah dempot masih tetap semangat untuk menjajakan dagangannya. Beliau seakan akan tak menggubris pikiran orang orang sekitarnya. Karena penasaran, akhirnya saya berpura pura membeli es serut tersebut. Sembari menunggu pesanan es serutku, kuberanikan diri untuk bertanya tanya kepada bapak bapak penjual es tersebut. Awalnya hanya basa basi, namun akhirnya aku berani bertanya, 'Maaf Pak.  Kalau boleh bertanya tapi maaf mungkin pertanyaan saya agak menyinggung perasaan Bapak. Kalau menurut pemikiran saya, es serut itu sudah tidak jamannya untuk saat ini. Tapi mengapa Bapak masih saja berjualan es serut ini? ' . Sambil memberi pesanan es serut kepada saya, beliau menjawab, ' Iya mas, mungkin menurut Anda benar. Tapi saya juga punya keyakinan mas. Bahwa Tuhan sudah menyiapkan rezeki untuk setiap hambanya, dan Pembagian ini tidak akan mungkin salah alamat. Atas dasar itulah saya tetap berjualan es serut ini. Selain itu, semua ini juga saya lakukan sebagai salah satu bentuk pengamalan ilmu yang pernah saya dapat waktu mengaji di "langgar" saat kecil dulu. Dulu, salah satu guru saya pernah berkata ,' Lek, tigas kita semua adalah menghamba kepada yang patut untuk disembah, yaitu Tuhan kita. Jadi, saat kalian melakukan suatu pekerjaan atau usaha, usahakan niat kalian hanya sebagai salah satu bentuk penghambaan kita kepada Tuhan. Sudah cukup itu. Masalah hasil nya nanti, itu urusan Tuhan. Toh, tugas kita kan hanya berusaha, bukan untuk menentukan hasil dari apa yang kita usahakan.'
Seketika itu, aku mengucapkan terimakasih dan membayar dengan uang sesuai pesananku. Saat melangkah menjauhi bapak bapak tadi, aku mencoba untuk mengulangi apa yang beliau ucapkan. Lalu akhirnya kutemukan sebuah makna yg sangat dalam.

Ya inilah pelajaran untukku,
Tugas kita hanya lah mengabdi.
Bukan mengabdi kepada omongan orang lain, tapi mengabdi kepada Tuhan.
Ya seperti bapak2 tadi,  dia tetap mengabdi dengan caranya sendiri, yaitu berdagang.
Intinya kita mengabdi. Karena kita hanyalah diperintah untuk berusaha, bukan menentukan hasil dari usaha kita.
Intinya, berusahalah dan bekerjalah sesuai passion kalian . Niatkan semua itu sbg salah satu bentuk penghambaan diri kita kepadaNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar