Sabtu, 22 Mei 2021

Apa Kabar Pendidikan di Perguruan Tinggi?

 Berikut ini akan saya lampirkan sebuah komentar saya terhadap kehidupan di kampus. Komentar ini saya buat ketika saya semester 2 awal dalam rangka memenuhi tugas awal mata kuliah ilmu pendidikan. Saya ingat betul , ketika Dosen memberikan tugas, Beliau berkata " Tulis apa saja yang menjadi unek-unek kalian. Saya tidak akan menyalahkan. Simpan tulisan itu, dan baca kembali ketika kalian hampir/sudah lulus." Atas dasar "sendiko dawuh" inilah saya menyimpan "komentar" saya lewat blog ini. Terimakasih


Harapan

Perguruan tinggi merupakan salah satu jenjang pendidikan lanjutan dari SMA , dimana penyebutan kata siswa kini sudah diganti menjadi mahasiswa. Ya mahasiswa, artinya lebih dari siswa. Awalnya saya mengira, bahwa mengeyam pendidikan di jenjang perguruan tinggi sangatlah menyenangkan. Hal ini disebabkan , katanya di tempat ini kita bisa bebas memilih belajar apa yang kita sukai. Dengan hal ini kita belajar tanpa merasa terbebani. Katanya juga di tempat ini kita bisa bebas berekspresi, bebas menyampaikan pendapat, seperti yang dikatakan oleh UUD 45. Katanya pula , semua orang punya hak yang sama untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. “Tenang saja, biaya kuliah udah disubsidi pemerintah , toh jika ada yang benar benar kurang mampu nanti bisa dapat beasiswa bidikmisi, yang berkecukupan pun bisa cari beasiswa yang lain, karena beasiswa di kuliah itu SANGAT banyak” .  

Realita

Tapi angan- angan ku berubah 180 derajat kala aku mulai masuk kuliah. Yang kukira kita bebas memilih makul, tapi selama 2 semester ini kita  dipaksa  memilih makul yang sudah paketan. Artinya kita tak bisa memilih sesuai dengan kehendak kita. Lanjut, waktu kemarin pas awal awal masuk kuliah ada yang bercuit di media social tentang adanya uang pangkal, nyatanya itu malah dibalas sinis oleh salah satu pimpinan birokrasi kampus. Tak lama juga, kemarin waktu ada demo di depan rektorat, ada salah satu dosen yang mengancam akan memberi nilai buruk pada mahasiswanya yang kedapatan ikut berdemo. Terakhir, ternyata beasiswa itu kebanyakan ada ikatan dengan universitasnya. Jadi semakin besar nama universitasnya maka beasiswa akan semakin banyak terbuka. Kebalikannya , pada universitas yang namanya tak sebesar univ pertama tadi , ya tentu jumlah beasiswa yang tersedia tak sebanyak yang pertama tadi.

Solusi Tawaran

Usul saran sedikit, sebaiknya di awal , mahasiswa baru diberi tahu bahwa pada dua semester awal ini mahasiswa diberi mata kuliah paketan, sehingga mahasiswa yang sudah bersemangat untuk memilih matkul yang disukai ternyata tidak masuk dalam paket matkul , mereka tidak kecewa. Kemudian, jika ada mahasiswa yang sudah usul lewat lisan ataupun lisan , tolong dihargai dan ditampung serta diberi solusi. Kalau bisa sih pimpinan yang mencari tahu masalah dan kekurangan pada universitasnya, baik itu menyangkut mahasiswa, tendik, kurikulum, infrastruktur, maupun yang lainnya. Terakhir, tolong kalau bisa ditambah relasi dengan pihak luar atau perusahaan luar, atau penyedia beasiswa , agar nantinya mahasiswa yang kekurangan dalam masalah finansial bisa terbantu.

Mohon maaf jika apa yang saya uraikan banyak kekeliruan. Semoga saja apa yang saya tuduhkan tidak terbukti, dan saya salah dalam menerima informasi dan kurang dalam mencari informasi. 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar